Cakrawala Indonesia — State Street Global Advisors memperkirakan harga emas masih memiliki ruang penguatan dalam enam hingga sembilan bulan ke depan. Permintaan bank sentral, diversifikasi portofolio, dan tingginya utang global diproyeksikan menjadi faktor utama yang menopang kenaikan logam mulia tersebut.
Dalam laporan terbarunya, State Street memprokirakan harga emas berpotensi mencapai kisaran US$4.750–US$5.500 per troy ounce dengan probabilitas sebesar 70%. Adapun pada skenario alternatif yang memiliki peluang 25%, harga emas diperkirakan bergerak di rentang US$4.000–US$4.750 per troy ounce.
Tim analis State Street yang dipimpin Aakash Doshi menyebutkan prospek tersebut didukung oleh berlanjutnya pembelian emas oleh bank sentral serta meningkatnya kebutuhan investor terhadap aset lindung nilai di tengah tingginya korelasi antara pasar saham dan obligasi.
Meski demikian, State Street mengingatkan harga emas masih berpotensi mengalami koreksi menuju area US$3.750–US$4.000 per troy ounce apabila tekanan jangka pendek meningkat.
Menurut laporan tersebut, penguatan dolar Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang membebani kinerja emas sepanjang Juni. Pada periode yang sama, ETF emas yang diperdagangkan di Amerika Serikat mencatat arus keluar dana sekitar US$5,3 miliar, setelah aliran investasi relatif stabil pada April dan Mei.
Di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga dinilai masih menjadi tantangan. Kendati harga minyak mentah Brent telah turun di bawah US$80 per barel dan prospek gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran mulai meredakan risiko geopolitik, pelaku pasar masih memperkirakan bank sentral Amerika Serikat akan mempertahankan kebijakan suku bunga yang relatif ketat.
State Street menilai faktor-faktor tersebut hanya menjadi hambatan jangka pendek dan tidak mengubah prospek kenaikan harga emas dalam jangka panjang.
Lembaga investasi tersebut juga menyoroti peningkatan utang global sebagai katalis struktural bagi permintaan emas. Total utang dunia tercatat mencapai sekitar US$353 triliun pada paruh pertama 2026, dengan porsi utang pemerintah terus meningkat hingga mendekati sepertiga dari total utang global.
Menurut State Street, kondisi tersebut berpotensi memperkuat fungsi emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap risiko inflasi dan ekspansi fiskal. Selain itu, permintaan emas fisik dari investor ritel di China serta pembelian oleh bank sentral negara berkembang diperkirakan tetap solid sehingga menopang prospek harga logam mulia dalam jangka menengah.
