Cakrawala Indonesia – Harga Bitcoin (BTC) naik 2,01% menjadi US$86.462 per koin pada Senin (5/10/2026) pukul 08.05 WIB, berdasarkan data CoinMarketCap. Dengan asumsi kurs Rp17.934 per dolar AS, harga tersebut setara sekitar Rp1,55 miliar. Bitcoin menguat setelah bergerak di kisaran US$83.000-US$85.000 dalam beberapa hari terakhir.
Kapitalisasi pasar kripto global naik 1,68% dalam 24 jam menjadi US$2,94 triliun. Indeks CoinDesk 20 menguat 1,97%. Ethereum (ETH) naik 1,24% menjadi US$2.725, sedangkan Binance Coin (BNB) menguat 1,35% menjadi US$795.
Namun, kenaikan Bitcoin di atas US$86.000 belum sepenuhnya didukung permintaan pasar AS, yang tercermin dari aktivitas pembelian spot yang masih lemah.
Mengutip TradingView, harga Bitcoin sebelumnya sempat berada di sekitar US$75.000 pada pertengahan September 2026. Harga kemudian melonjak hingga menembus US$87.000 pada 23 September sebelum kembali terkoreksi.
Setelah koreksi tersebut, Bitcoin bergerak relatif stabil di kisaran US$83.000-US$85.000. Penguatan pada awal Oktober kembali membawa harga ke atas US$86.000.
Permintaan Pasar AS Masih Jadi Sorotan
Perbedaan kekuatan pasar Bitcoin di AS dan Eropa menjadi salah satu perhatian investor.
Pasar Bitcoin Eropa tercatat menguat sekitar 4% sejak awal September, sementara pasar AS justru turun sekitar 3% dalam periode yang sama.
Salah satu indikator yang digunakan untuk melihat kondisi tersebut adalah Coinbase Premium Index. Indikator ini membandingkan harga Bitcoin di Coinbase dengan harga Bitcoin di platform global seperti Binance.
Sekitar 3 Oktober 2026, Coinbase Premium Index tercatat negatif selama 29 hari berturut-turut, dengan kisaran minus 0,014 hingga minus 0,036.
Kondisi tersebut mengindikasikan permintaan pembeli di AS belum sekuat pasar global. Dengan kata lain, kenaikan harga Bitcoin belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan aktivitas pembelian spot dari investor AS.
Data permintaan spot dari CryptoQuant juga memberikan sinyal serupa. Apparent spot demand tercatat mengalami kontraksi sekitar 170.000 BTC dalam periode 30 hari hingga awal Oktober.
Meski demikian, kondisi tersebut belum berarti minat investor AS terhadap Bitcoin secara keseluruhan melemah.
Arus dana ke produk investasi Bitcoin justru masih menunjukkan kekuatan. Pada pekan 21-25 September 2026, ETF Bitcoin spot AS mencatat arus dana masuk bersih sekitar US$2,39 miliar.
Angka tersebut menjadi arus masuk mingguan terbesar dalam sekitar satu tahun. Produk yang dikelola BlackRock dan Fidelity menjadi salah satu pendorong utama arus dana tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan investor AS belum sepenuhnya seragam. Di satu sisi, arus dana ETF yang kuat mencerminkan minat dari investor institusi dan penasihat investasi. Di sisi lain, Coinbase Premium yang masih negatif menunjukkan aktivitas pembelian langsung di bursa belum mengikuti penguatan arus dana ETF.
Pasar Eropa Mendapat Katalis Produk Baru
Sementara itu, pasar Eropa mendapat tambahan katalis dari semakin beragamnya produk investasi berbasis kripto.
Pada 29 September 2026, HANetf meluncurkan produk Bitcoin exchange-traded commodity (ETC) dengan perlindungan nilai terhadap euro.
Produk tersebut memberikan eksposur terhadap Bitcoin tanpa mengharuskan investor mengelola dompet atau private key secara langsung.
Fitur euro-hedged dirancang untuk mengurangi risiko perubahan nilai tukar bagi investor berbasis euro. Hal ini menjadi penting karena Bitcoin pada dasarnya diperdagangkan dalam denominasi dolar AS.
Investor Eropa dengan demikian menghadapi dua sumber risiko, yakni perubahan harga Bitcoin dan pergerakan nilai tukar euro terhadap dolar AS. Dengan perlindungan nilai tersebut, dampak perubahan kurs dapat ditekan.
Peluncuran produk tersebut juga berlangsung ketika kerangka regulasi aset kripto di Eropa melalui Markets in Crypto-Assets (MiCA) semakin terbentuk.
Bertambahnya produk investasi yang lebih mudah diakses investor tradisional berpotensi memperluas basis permintaan Bitcoin di pasar Eropa.
Investor Menanti Sinyal The Fed
Selain kondisi permintaan di AS dan Eropa, pergerakan Bitcoin pekan ini juga akan dipengaruhi sentimen kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed.
Investor mencermati rilis FOMC Minutes yang dijadwalkan pada Rabu (7/10/2026). Risalah tersebut akan menjadi perhatian setelah data tenaga kerja AS September menunjukkan pelemahan cukup tajam.
Payrolls AS pada September hanya bertambah 29.000, jauh di bawah konsensus sekitar 90.000. Tingkat pengangguran naik menjadi 4,2% dari 4,1%.
Data tersebut meningkatkan ekspektasi pasar bahwa The Fed memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga dan tidak menaikkannya pada Oktober.
Bagi Bitcoin, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar dapat menjadi sentimen positif karena berpotensi meningkatkan minat terhadap aset berisiko.
Namun, kenaikan yield US Treasury 10 tahun yang masih tinggi dapat menjadi penghambat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi membuat aset berisiko seperti Bitcoin harus bersaing dengan instrumen pendapatan tetap yang menawarkan tingkat imbal hasil lebih menarik.
Karena itu, arah kebijakan The Fed dan pergerakan yield Treasury akan tetap menjadi faktor penting bagi pasar kripto dalam beberapa hari ke depan.
Tiga Indikator yang Perlu Dicermati
Dengan kondisi pasar saat ini, investor Bitcoin perlu mencermati setidaknya tiga indikator utama.
Pertama, Coinbase Premium Index untuk melihat apakah pembeli AS mulai kembali masuk ke pasar spot.
Kedua, arus dana ETF Bitcoin spot untuk mengukur keberlanjutan minat investor institusi dan investor tradisional terhadap Bitcoin.
Ketiga, perkembangan produk investasi kripto di Eropa yang dapat menjadi sumber permintaan baru di tengah belum pulihnya aktivitas pembelian spot di AS.
Penguatan Bitcoin ke atas US$86.000 menjadi sinyal positif bagi pasar. Namun, keberlanjutan reli tersebut masih perlu dikonfirmasi oleh pemulihan permintaan spot.
Jika aktivitas pembelian langsung kembali meningkat, kenaikan Bitcoin berpeluang mendapatkan dukungan yang lebih luas. Sebaliknya, apabila permintaan spot tetap lemah sementara kenaikan lebih banyak ditopang produk investasi tertentu, ruang penguatan Bitcoin masih berpotensi menghadapi tekanan.
Dengan demikian, level harga US$86.000 bukan satu-satunya perhatian investor. Kekuatan permintaan di pasar spot, arus dana institusi, perkembangan produk investasi di Eropa, serta arah kebijakan The Fed akan menjadi faktor penting yang menentukan apakah Bitcoin mampu mempertahankan momentum kenaikannya.
