Cakrawala Indonesia – Dinamika politik nasional dinilai masih sangat cair, termasuk terkait peluang munculnya gerakan rakyat dalam kontestasi politik serta masa depan politik Anies Baswedan.
Loyalis Anies Baswedan, Geisz Chalifah, mengatakan gerakan yang dibahas dalam sejumlah pertemuan telah menyelesaikan persyaratan administratif dan kini tinggal menunggu proses verifikasi faktual oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Menurut Geisz, jaringan gerakan tersebut juga telah terbentuk di puluhan provinsi serta berbagai kabupaten dan kota. Ia menilai kesiapan administrasi dan pemenuhan persyaratan di sejumlah daerah sejauh ini cukup kuat.
Namun, Geisz menyebut keberlanjutan gerakan tersebut masih sangat bergantung pada arah kebijakan pemerintah. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah apakah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto akan memberikan ruang bagi gerakan rakyat untuk berpartisipasi secara terbuka dalam kontestasi politik mendatang.
Persoalan ambang batas pencalonan atau zero percent threshold juga masih menjadi perdebatan. Geisz menilai pembahasan mengenai mekanisme tersebut kemungkinan masih membutuhkan proses politik yang panjang di DPR.
Selain itu, muncul pertanyaan mengenai arah perjuangan gerakan rakyat ke depan. Gerakan tersebut dapat memilih membangun kerja sama dengan partai politik yang telah memiliki kursi di DPR atau bergerak secara mandiri menghadapi pemilu.
Mantan Komisaris PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk itu juga menyoroti kebutuhan modal untuk membangun kekuatan politik berskala nasional. Menurutnya, kebutuhan dana awal untuk menopang organisasi dan berbagai kegiatan politik di daerah bisa mencapai sedikitnya Rp1 triliun.
Anies Masih Diperhitungkan
Di tengah dinamika tersebut, posisi Anies Baswedan turut menjadi sorotan. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu saat ini tidak memegang jabatan publik dan relatif jarang tampil secara langsung dalam kegiatan politik.
Meski demikian, Geisz menilai Anies masih memiliki daya tarik dan tingkat pengenalan yang kuat di tengah masyarakat.
Ia menyebut sejumlah survei politik masih menempatkan Anies dalam jajaran figur dengan elektabilitas nasional yang cukup tinggi. Dalam sejumlah pengukuran, kata Geisz, Anies berada di posisi atas setelah Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah tokoh politik lainnya.
Geisz juga menyinggung hasil survei Median yang menurutnya memperlihatkan persaingan elektabilitas sejumlah tokoh nasional masih berlangsung dinamis.
Menurut dia, absennya Anies dari posisi kelembagaan tidak serta-merta menghilangkan pengaruh politiknya. Anies tetap menjadi salah satu figur yang diperhitungkan dalam perkembangan politik nasional.
Namun, Geisz mengakui prospek politik Anies ke depan belum dapat dipastikan. Perubahan konfigurasi koalisi, kebijakan pemerintah, perkembangan partai politik, serta respons masyarakat dapat memengaruhi peta politik menjelang agenda elektoral berikutnya.
Pilih Jaga Ruang Politik
Geisz juga menjelaskan alasan dirinya dan sejumlah rekan memilih tidak bergabung dengan organisasi politik tertentu.
Menurutnya, pencantuman nama mereka dalam sebuah organisasi berpotensi membuat publik langsung mengaitkannya dengan Anies Baswedan. Kondisi tersebut dinilai dapat membatasi ruang gerak dalam menentukan sikap politik.
Karena itu, pilihan untuk tidak melekat pada organisasi tertentu disebut sebagai langkah untuk menjaga kebebasan dalam menentukan sikap dan arah politik.
Ke depan, perkembangan gerakan rakyat, penyelesaian persoalan ambang batas pencalonan, serta arah kebijakan pemerintah menjadi sejumlah faktor penting yang akan menentukan konfigurasi politik nasional.
Perkembangan tersebut sekaligus akan memengaruhi peluang Anies Baswedan untuk kembali menjadi salah satu figur sentral dalam peta politik Indonesia menjelang kontestasi berikutnya.
