Cakrawala Indonesia – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Senin (20/7/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah 65 poin atau 0,36% ke level Rp17.986 per dolar AS, seiring menguatnya dolar AS di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan memburuknya sentimen risiko global.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, rupiah bergerak berbalik arah setelah pada penutupan perdagangan Jumat (17/7/2026) berhasil menguat 65 poin ke posisi Rp17.921 per dolar AS.
Penguatan dolar AS didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak, serta melemahnya kepercayaan investor setelah gejolak pasar pada pekan lalu.
Indeks dolar AS tercatat naik 0,1% menjadi 100,84. Sementara itu, yen Jepang melemah 0,1% ke level 162,48 per dolar AS. Euro turun 0,1% menjadi US$1,1426 per dolar AS, sedangkan poundsterling Inggris relatif stabil di US$1,3445 per dolar AS.
Di kawasan Asia Pasifik, dolar Australia melemah 0,1% ke US$0,6975 per dolar AS, sementara dolar Selandia Baru turun 0,2% menjadi US$0,5833 per dolar AS.
Analis Westpac menyebut pasar valuta asing bergerak relatif tenang dengan dolar AS secara umum tetap kuat. Di sisi lain, dolar Australia mengalami pelemahan terhadap dolar AS maupun mayoritas mata uang utama lainnya.
Menurut Westpac, sentimen pasar semakin tertekan akibat kekhawatiran terhadap valuasi saham sektor semikonduktor yang mengurangi minat investor terhadap aset berisiko. Selain itu, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Iran menangguhkan komitmennya dalam kesepakatan perdamaian sementara turut memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai.
