Cakrawala Indonesia – Film Beautiful Pain tak sekadar mengangkat kisah perceraian, tetapi juga menyoroti perjuangan perempuan menghadapi pelecehan seksual, fitnah, hingga stigma sosial setelah keluar dari hubungan rumah tangga yang toxic. Pesan tersebut mengemuka dalam gala premiere film yang digelar di Epicentrum XXI, Jakarta.
Dibintangi Raihaanun sebagai Niken, Beautiful Pain menghadirkan potret perempuan yang berusaha membangun kembali hidupnya setelah meninggalkan pernikahan yang penuh tekanan. Di tengah upayanya mencari nafkah secara mandiri dan memperjuangkan hak asuh kedua anaknya, Niken justru menghadapi persoalan baru berupa pelecehan seksual dan fitnah yang mengancam martabatnya.
Alih-alih mendapatkan dukungan, Niken harus menghadapi lingkungan yang meragukan dirinya dan cenderung menyalahkan korban. Situasi tersebut membuat perjuangannya semakin berat, terlebih ketika ia harus bertahan sebagai ibu tunggal sekaligus melindungi masa depan anak-anaknya.
Melalui karakter Niken, film ini mengangkat persoalan yang masih dihadapi banyak perempuan, mulai dari sulitnya keluar dari hubungan tidak sehat hingga tekanan sosial ketika berani mengungkap kekerasan yang dialami.
Raihaanun: Perempuan Berhak Bangkit dan Bahagia
Aktris peraih Piala Citra, Raihaanun, mengaku terbawa emosi ketika mendalami karakter Niken. Menurutnya, perjalanan tokoh tersebut menggambarkan perjuangan perempuan yang berusaha melepaskan diri dari masa lalu yang menyakitkan, tetapi kembali menghadapi ujian ketika mencoba bangkit.
“Setiap orang, setiap wanita, pasti pernah merasakan jatuh dan terjebak dalam jurang yang paling dalam. Niken adalah gambaran nyata wanita-wanita di luar sana yang kuat dan mampu melepaskan masa lalunya yang toxic,” ujar Raihaanun.
Ia menilai, salah satu sisi paling menyakitkan dari pengalaman Niken adalah ketika seorang perempuan yang berusaha memperbaiki hidup justru kembali menjadi sasaran pelecehan dan fitnah.
Raihaanun berharap film ini dapat menjadi penguat bagi perempuan yang mengalami situasi serupa, sekaligus mengingatkan masyarakat agar tidak mudah menghakimi korban.
“Aku harap kalian yang sedang mengalami apa yang dialami Niken bisa melihat film ini dan menyadari bahwa kalian tidak sendiri, kalian tidak salah, dan kalian sangat pantas untuk mendapatkan ketenangan serta kebahagiaan,” katanya.
Debut Penyutradaraan Dmaz Brodjonegoro
Beautiful Pain juga menandai debut penyutradaraan film panjang Dmaz Brodjonegoro. Bersama penulis skenario Titien Wattimena, Dmaz ingin menghadirkan cerita yang tidak berhenti sebagai hiburan, tetapi juga membuka ruang diskusi mengenai persoalan sosial yang kerap sulit dibicarakan.
“Dari awal saya sangat ingin film ini tidak hanya menjadi sekadar tontonan hiburan, namun dapat memantik perbincangan-perbincangan penting yang selama ini dibungkam di masyarakat kita,” ujar Dmaz.
Ia menyoroti bagaimana perempuan sering kali tidak memiliki ruang aman untuk menyampaikan pengalaman ketika mengalami kekerasan. Pada saat yang sama, ibu yang berjuang membesarkan anak seorang diri juga menghadapi beban sosial dan emosional yang tidak ringan.
Melalui film ini, Dmaz berharap penonton dapat membangun empati yang lebih besar terhadap perempuan yang berusaha keluar dari situasi kekerasan dan memulai kembali kehidupannya.
Produser Dapur Film, Hanung Bramantyo, turut mengapresiasi visi kemanusiaan yang dibawa Dmaz dalam mengembangkan cerita tersebut bersama Titien Wattimena.
“Saat saya mengembangkan cerita ini bersama Dmaz dan Mba Titien Wattimena, saya sudah bisa melihat kalau Dmaz adalah seorang sutradara yang punya visi kemanusiaan yang kuat, dan saya sangat bangga bisa mendukung visinya tersebut,” kata Hanung.
Sementara itu, Executive Producer Nikita Mirzani menegaskan bahwa pesan film ini ditujukan kepada perempuan Indonesia secara luas, bukan hanya berkaitan dengan pengalaman pribadi siapa pun yang terlibat dalam produksinya.
“Ini bukan film tentang Nikita Mirzani, tapi ini adalah film tentang semua wanita Indonesia, yang berani berjuang, berani mengambil risiko, berani melangkah lebih jauh lagi ke depan,” ujarnya.
Instalasi Kupu-Kupu, Simbol Perjalanan dari Trauma Menuju Kekuatan
Pesan Beautiful Pain turut diterjemahkan melalui instalasi puluhan kertas berbentuk kupu-kupu yang menghiasi lobi Epicentrum XXI saat gala premiere berlangsung.
Instalasi tersebut memuat curahan hati anonim tentang berbagai pengalaman emosional, mulai dari trauma akibat perselingkuhan, kekerasan yang diikuti tindakan menyalahkan korban, hingga pergulatan seorang ibu tunggal dalam menghadapi rasa bersalah dan tekanan sosial.
Kupu-kupu dipilih sebagai simbol perubahan dan keberanian untuk bangkit. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa pengalaman menyakitkan tidak harus menjadi akhir perjalanan seseorang. Dengan dukungan dan keberanian untuk bersuara, trauma dapat menjadi bagian dari proses pemulihan.
Semangat tersebut dirangkum melalui pesan Every Pain Has a Beautiful Side, yang mengajak masyarakat melihat bahwa di balik pengalaman pahit, seseorang tetap memiliki kesempatan untuk menemukan kekuatan dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Film produksi Dapur Film ini dibintangi Raihaanun sebagai Niken, Baim Wong sebagai Dirga, Tarra Budiman sebagai Randy, Anantya Kirana sebagai Naia, Evano Zyan sebagai Dio, Jajang C. Noer sebagai Rahmania, Dimas Aditya sebagai Gerry, Siti Fauziah sebagai Sekarsari, Berlliana Lovel sebagai Diana, dan Anastasia Herzigova sebagai Jane.
Mengusung pesan Fight the Trauma, Beautiful Pain dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026.
Film ini mengajak penonton bukan hanya mengikuti perjalanan Niken, tetapi juga merefleksikan bagaimana masyarakat memperlakukan perempuan yang berani meninggalkan hubungan tidak sehat, memperjuangkan haknya, dan berbicara tentang kekerasan yang dialaminya.
Informasi terbaru mengenai film ini dapat diikuti melalui akun media sosial @filmbeautifulpain dan @dapurfilm.
