Cakrawala Indonesia – Menjelang penayangan serentak di bioskop pada 1 Oktober 2026, film horor terbaru garapan sutradara Hanung Bramantyo, Lobang Buaya, resmi merilis official trailer dan final poster.
Diproduksi Adhya Pictures bersama Dapur Film, Lobang Buaya mengangkat misteri pembunuhan berantai yang berlatar Indonesia pada 1964. Film ini menjadi ruang eksplorasi kreatif Hanung Bramantyo untuk menangkap rasa “horor” kolektif yang kerap muncul di tengah masyarakat Indonesia ketika memasuki September, sekaligus menghadirkan kritik terhadap persoalan sosial yang dinilai masih relevan hingga kini.
Visual final poster langsung memperlihatkan teror yang menjadi benang merah cerita. Sebuah tangan misterius tampak menembus punggung seorang perempuan yang berlubang. Visual penuh teka-teki tersebut merepresentasikan ancaman sekaligus misteri yang akan dihadapi penonton sepanjang film.
Sementara itu, official trailer memperkenalkan sosok Letnan Soegeng yang diperankan Baskara Mahendra. Ia merupakan anggota militer yang mendapat tugas untuk mengungkap motif di balik serangkaian pembunuhan yang terjadi setiap tanggal 30 di Desa Lobang Buaya.
Baskara Mahendra mengatakan, penonton akan diajak mengikuti proses penyelidikan Soegeng sekaligus menyusun berbagai petunjuk yang muncul sepanjang cerita.
“Lewat film ini, kalian akan mengikuti setiap langkah Soegeng untuk mencari dalang di balik misteri pembunuhan berantai ini. Saya yakin dari setiap petunjuk yang ditemukan, setiap korban yang berjatuhan, penonton akan dibawa melalui perjalanan yang nggak cuma menegangkan dan seru, tapi juga membuat kita bertanya, siapa yang berdosa dalam kisah ini?” ujar Baskara.
Menghadirkan Horor dari Rasa Takut Kolektif
Hanung Bramantyo menjelaskan, penggunaan genre horor dalam Lobang Buaya merupakan pilihan yang disengaja. Menurutnya, horor digunakan untuk menggambarkan rasa takut masyarakat terhadap ketidakadilan dan persoalan kekuasaan yang terjadi pada masa tersebut.
“Dari saya kecil sampai sekarang, seakan-akan ada satu topik yang dianggap tabu untuk dibicarakan. Saya berpikir kembali, perasaan apa yang kita rasakan ketika mendengar peristiwa ’65? Jawabannya adalah horor,” kata Hanung.
Ia menambahkan, horor dalam film ini tidak hanya dimaksudkan untuk menghadirkan ketakutan melalui teror dan sosok supranatural, tetapi juga menggambarkan ketakutan yang muncul dari persoalan kekuasaan, korupsi, serta tindakan manusia yang saling menindas.
Misteri Pembunuhan di Desa Lobang Buaya
Cerita Lobang Buaya berlatar setahun sebelum meletusnya peristiwa kelam 1965. Saat itu, Desa Lobang Buaya diguncang teror pembunuhan berantai yang menyasar sejumlah tokoh desa.
Para korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan punggung berlubang. Tidak hanya itu, sayatan kata-kata bernada sindiran seperti “Tamak”, “Lamis”, dan “Maruk” ditemukan pada tubuh mereka.
Rumor mengenai sosok “Hantu Bolong” pun mulai menyebar. Di tengah meningkatnya ketegangan sosial, Letnan Soegeng ditugaskan untuk mengungkap siapa dalang di balik pembantaian tersebut.
Namun, persoalan tidak berhenti pada penyelidikan Soegeng. Kehidupan rumah tangganya ikut diteror setelah istri barunya, Arum Wangi yang diperankan Carissa Perusset, mulai dihantui arwah perempuan yang menuntut bagian tubuhnya dikembalikan.
Panggilan arwah yang menyebut Arum sebagai “Ronggeng” perlahan membuka tabir misteri. Kekacauan yang terjadi di desa maupun di rumah Soegeng ternyata bukan sebuah kebetulan, melainkan bagian dari ritual gelap yang dirancang untuk mengubah arah sejarah.
Dengan perpaduan misteri pembunuhan, teror supranatural, dan persoalan sosial-politik, Lobang Buaya menawarkan pengalaman horor yang tidak hanya mengandalkan rasa takut, tetapi juga mengajak penonton mempertanyakan siapa yang sebenarnya menjadi pelaku, korban, dan pihak yang berdosa dalam sebuah kisah kelam.
