Cakrawala Indonesia — Siswa kelas XII-2 SMA Negeri 26 Jakarta, Tebet, Jakarta Selatan, akan menghadirkan pertunjukan seni atau pentas seni (pensi) melalui pementasan teater bertajuk “Les Miserants”.
Pementasan ini mengangkat tema penebusan dosa, ketidakadilan sosial, perjuangan kelas, serta perlawanan terhadap sistem kekuasaan yang menindas. Berlatar Batavia pada abad ke-19, kisah bermula pada 1815 dan mengikuti perjalanan Johan Vander Wijaya, seorang mantan narapidana yang berusaha meninggalkan masa lalunya untuk membangun kehidupan baru.
Johan sebelumnya dikenal sebagai Tahanan 58404 yang menjalani hukuman kerja paksa selama 19 tahun hanya karena mencuri segenggam beras. Setelah bebas, ia mengganti identitas menjadi Cornelius hingga akhirnya dipercaya menduduki posisi sebagai Walikota Batavia.
Alih-alih menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi, Cornelius justru memanfaatkannya untuk melindungi dan memperjuangkan kepentingan rakyat.
Namun, perjalanan tersebut tidak mudah. Johan terus diburu Frederik, seorang penegak hukum sekaligus Jenderal Polisi kolonial yang digambarkan kaku dan tidak mengenal kompromi. Konflik semakin memanas ketika Frederik melakukan kudeta dan mengangkat dirinya sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Di tengah konflik kekuasaan tersebut hadir Helena, seorang janda miskin yang kehilangan suaminya akibat kerja rodi. Demi memenuhi kebutuhan anaknya, Helena berjuang di tengah tekanan kemiskinan. Namun, ia kemudian menjadi korban kekerasan kekuasaan setelah dituduh mencuri beras.
Putri Helena, Eleanor, juga memiliki peran penting dalam cerita. Setelah mengalami eksploitasi oleh keluarga Delacroix, Eleanor diselamatkan dan diadopsi Cornelius. Ketika dewasa, ia bergabung dalam perjuangan rakyat bersama Aditya Wiranegara, seorang pemuda revolusioner yang memimpin gerakan melawan sistem kolonial Hindia Belanda.
Pementasan turut menghadirkan Pauline van der Capellen, putri sulung Gubernur Jenderal Godert van der Capellen, yang menawarkan posisi walikota kepada Cornelius.
Sementara itu, Gustaf dan Madame Delacroix digambarkan sebagai pasangan pemilik kedai yang serakah dan mengeksploitasi Eleanor. Kedai mereka juga menjadi tempat penyelundupan candu.
Melalui karakter Frederik, “Les Miserants” menggambarkan ideologi kolonial yang menempatkan hukum sebagai aturan mutlak. Sebaliknya, Aditya membawa gagasan bahwa hukum yang tidak mempertimbangkan sisi kemanusiaan dapat berubah menjadi instrumen penindasan.
Pesan tersebut menjadi salah satu inti cerita, yakni kritik terhadap sistem yang hanya menghukum seseorang tanpa melihat akar persoalan seperti kemiskinan dan ketimpangan sosial.
Pementasan juga menekankan pentingnya solidaritas, keberanian, serta perlawanan masyarakat terhadap ketidakadilan. Simbol pin burung mockingjay digunakan sebagai representasi keberanian dan semangat rakyat dalam menghadapi sistem yang tiran.
Sejumlah siswa dipercaya memerankan tokoh-tokoh utama. Muhammad Zian Kamil berperan sebagai Johan, Andrea Melandri sebagai Frederik, Alvira Zahra Arifin sebagai Helena, Kendra Ailsa Nandapratista sebagai Eleanor, Abed Nego Gilbertian sebagai Aditya Wiranegara, serta Kirana Putrining Ramadhan sebagai Pauline van der Capellen.
Sementara itu, karakter Gustaf dan Madame Delacroix masing-masing diperankan Muhammad Ammar Syafiq dan Nadilla Kurniawati.
Pementasan “Les Miserants” disutradarai Rayendra Wirabagja S., dengan Keyaani Adilla Widyanto sebagai asisten sutradara. Naskah ditulis Radhika Naufal Aulya bersama Fahmi Gumarang sebagai co-writer.
Melalui panggung teater ini, siswa kelas XII-2 SMA Negeri 26 Jakarta tidak sekadar menghadirkan hiburan dalam kegiatan pentas seni. Mereka juga mencoba menyampaikan refleksi mengenai hubungan antara hukum, kekuasaan, kemiskinan, dan kemanusiaan.
Kini, aksi para siswa tersebut tinggal menunggu panggung pentas seni. “Les Miserants” diharapkan tidak hanya menghibur penonton, tetapi juga meninggalkan pertanyaan penting: ketika hukum kehilangan sisi kemanusiaannya, apakah ia masih menjadi keadilan?
So, mari kita tunggu aksi mereka di ajang pensi nanti.
