Cakrawala Indonesia – Organisasi kemasyarakatan Islam Alkhairaat akan menggelar Silaturahmi Nasional (Silatnas) pada 30 November 2026 di Ballroom Hotel Sahid, Jakarta. Mengusung tema “Guru Tua Memanggil”, kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus memperkuat kontribusi Alkhairaat di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial menjelang satu abad perjalanan organisasi pada 2027.
Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Alkhairaat, H. Mohsen Alaydrus, mengatakan Silatnas bukan sekadar ajang pertemuan keluarga besar organisasi. Kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk meneguhkan peran Alkhairaat sebagai perekat sosial, penjaga kerukunan, dan penguat persatuan bangsa di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Menurut Mohsen, Alkhairaat memiliki sejarah panjang dalam membangun pendidikan dan pembinaan keagamaan sejak didirikan oleh Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, yang dikenal sebagai Guru Tua, pada 1930 di Palu, Sulawesi Tengah.
Sejak awal berdiri, Alkhairaat berkembang melalui pendekatan dakwah yang melibatkan masyarakat secara langsung, termasuk dalam mendirikan lembaga pendidikan. Pendekatan tersebut menjadi fondasi bagi perluasan jaringan Alkhairaat hingga ke berbagai wilayah Nusantara.
“Alkhairaat tidak hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga lembaga pendidikan dan lembaga sosial kemasyarakatan,” ujar Mohsen.
Ia menegaskan, nilai keagamaan dan nasionalisme harus berjalan beriringan. Ketaatan terhadap ajaran agama tidak seharusnya dipertentangkan dengan kecintaan terhadap bangsa dan negara.
Karena itu, Alkhairaat berkomitmen menjaga harmoni sosial, memperkuat persaudaraan, serta merawat keberagaman suku, agama, dan budaya sebagai bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ketua Panitia Silatnas Alkhairaat, Syamsudin M. Pay, menjelaskan bahwa tema “Guru Tua Memanggil” mengandung empat pesan utama bagi seluruh keluarga besar organisasi.
Pertama, panggilan pengabdian untuk memberikan kontribusi nyata bagi keberlanjutan Alkhairaat. Kedua, memperkuat persatuan dan konsolidasi potensi umat yang diperkirakan mencapai 20 juta jamaah dan simpatisan di 28 provinsi.
Ketiga, menghidupkan kembali nilai-nilai akhlak, ilmu, serta dakwah yang damai dan toleran sebagaimana diwariskan Guru Tua. Keempat, mempertegas pengabdian kepada bangsa melalui pendidikan, dakwah, dan kegiatan sosial sekaligus menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurut Syamsudin, konsolidasi tersebut penting untuk menyatukan potensi organisasi dalam menghadapi tantangan ke depan, terutama menjelang memasuki abad kedua perjalanan Alkhairaat.
Di bidang pendidikan, Alkhairaat saat ini memiliki sekitar 2.000 madrasah diniyah awaliyah yang tersebar di berbagai daerah, terutama di Indonesia bagian timur.
Jaringan pendidikan tersebut juga mencakup sekolah menengah, madrasah aliyah, hingga Universitas Alkhairaat di Palu. Selain itu, Alkhairaat turut berkontribusi dalam pelayanan kesehatan melalui fasilitas rumah sakit.
Keberadaan jaringan pendidikan dan sosial tersebut menjadi bagian dari kontribusi Alkhairaat dalam memperluas akses pendidikan, membangun kualitas sumber daya manusia, serta memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Menjelang satu abad organisasi pada 2027, Alkhairaat juga mendorong pengakuan negara terhadap jasa dan perjuangan Guru Tua melalui usulan pemberian gelar Pahlawan Nasional.
Organisasi ini berharap kiprah Guru Tua dalam pendidikan, dakwah, dan perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa memperoleh perhatian lebih luas dari pemerintah.
Panitia Silatnas turut menyiapkan sejumlah agenda pendukung, termasuk seminar nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 30 November 2026.
Melalui Silatnas tersebut, Alkhairaat berharap seluruh potensi organisasi dapat semakin terintegrasi untuk melanjutkan perjuangan pada abad kedua. Warisan Guru Tua diharapkan terus menjadi inspirasi dalam membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, toleran, serta memiliki kecintaan terhadap agama dan Tanah Air.
