Cakrawala Indonesia – Harga Bitcoin (BTC) turun sekitar 2% menjadi US$68.500 pada perdagangan Selasa (7/4/2026), menghapus kenaikan singkat yang sempat membawa harga menembus level US$70.000 sehari sebelumnya.
Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, yang mendorong pelaku pasar untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Sentimen pasar memburuk setelah pernyataan dari Donald Trump terkait ultimatum terhadap Iran berkembang menjadi potensi aksi militer dalam waktu dekat.
Penolakan Teheran terhadap proposal gencatan senjata turut memperburuk situasi. Ketidakpastian ini memicu sikap hati-hati investor di berbagai kelas aset.
Di pasar komoditas, harga minyak melonjak hingga menembus US$113 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Sementara itu, harga Gold naik ke level US$4.654 per ons, mencerminkan peningkatan permintaan terhadap aset lindung nilai (safe haven).
Bitcoin sendiri sempat menunjukkan pemulihan terbatas ke kisaran US$68.957, namun masih gagal menembus level psikologis US$70.000. Sejak akhir Februari, setiap upaya penguatan menuju level tersebut cenderung diikuti aksi ambil untung, seiring likuiditas pasar yang relatif tipis.
Perkembangan di kawasan Selat Hormuz menjadi perhatian utama pelaku pasar. Gangguan berkepanjangan pada jalur distribusi energi global berpotensi memperburuk prospek ekonomi dunia.
Dalam kondisi ini, pasar kripto yang semakin berkorelasi dengan aset berisiko lainnya diperkirakan akan tetap sensitif terhadap dinamika geopolitik dan arah kebijakan global dalam jangka pendek.
