Cakrawala Indonesia – Trio komika GJLS, Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir, kembali meramaikan layar lebar melalui film GJLS: Berapi-Api. Kali ini, mereka tidak hanya mengandalkan komedi absurd yang menjadi ciri khasnya, tetapi juga menghadirkan aksi penyelamatan, drama persahabatan, dan konflik kemanusiaan yang serius.
Film produksi Amadeus Sinemagna bersama GJLS Entertainment ini diperkenalkan melalui konferensi pers dan gala premiere di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026).
Peluncuran film berlangsung unik dengan menghadirkan mobil pemadam kebakaran sungguhan dan Bus Wahana Damkar GJLS. Pengunjung serta awak media berkesempatan mencoba simulasi menjadi petugas pemadam kebakaran, mengenal perlengkapan keselamatan, hingga berfoto di depan mobil damkar.
Di balik konsep peluncuran tersebut, GJLS: Berapi-Api menawarkan cerita tentang tiga sahabat yang bercita-cita menjadi petugas pemadam kebakaran. Perjalanan mereka berubah ketika upaya membuktikan kemampuan justru membawa mereka ke dalam konspirasi perdagangan anak.
Disutradarai Monty Tiwa dan diproduseri Indra Yudhistira, film ini mengikuti perjalanan Rigen, Rispo, dan Hifdzi sebagai tiga sahabat sejak kecil yang memiliki impian menjadi petugas pemadam kebakaran heroik.
Namun, jalan menuju impian tersebut tidak berjalan mulus. Setelah gagal mengikuti pelatihan bersama regu elite Algojo Api, mereka justru mendapat tugas pelayanan masyarakat non-kebakaran.
Merasa perlu membuktikan kemampuan, ketiganya berusaha mencari jalan pintas. Keputusan tersebut membawa mereka ke dalam persoalan yang jauh lebih besar, termasuk konspirasi perdagangan anak yang melibatkan Bu Guru Nana, karakter yang diperankan Grace Emmanuela.
Situasi ini memaksa mereka menghadapi risiko nyata. Persahabatan, keberanian, dan kepedulian terhadap sesama menjadi hal yang diuji ketika mereka harus menentukan sikap di tengah keadaan berbahaya.
Ketiga tokoh utama juga digambarkan sebagai manusia biasa yang memiliki kekurangan dan pernah mengalami kegagalan. Justru dari situlah perjalanan mereka menemukan makna keberanian yang sesungguhnya.
Executive Producer sekaligus CEO Amadeus Sinemagna, Indra Yudhistira, mengatakan GJLS: Berapi-Api dikembangkan dengan skala produksi yang lebih ambisius, tanpa meninggalkan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Kami ingin film ini menjadi tontonan wajib di bioskop yang tak hanya mengocok perut, tetapi juga memberikan pesan positif dan kehangatan yang dapat dinikmati bersama keluarga tercinta,” ungkap Indra.
Sementara itu, Monty Tiwa mengaku tantangan terbesar dalam menggarap film ini adalah mempertahankan karakter komedi khas GJLS sekaligus membawa para pemain ke wilayah cerita yang berbeda.
“Di film ini, komedi mereka kami bawa ke ranah yang punya aksi nyata, empati, dan konflik yang menyentuh. Penonton diajak tertawa lepas sekaligus istirahat sejenak dari keresahan duniawi,” tutur Monty.
Pendekatan tersebut membuat komedi tidak hanya menjadi sumber hiburan, tetapi juga pintu masuk untuk menyampaikan pesan tentang keberanian dan kepedulian sosial.
Rigen menggambarkan karakternya sebagai sosok yang terus berjuang meraih mimpi meskipun menghadapi berbagai hambatan. Rispo menonjolkan sisi lembut melalui kepedulian terhadap anak-anak panti asuhan, sedangkan Hifdzi membawa pesan bahwa seseorang yang pernah menjadi korban perundungan juga dapat tumbuh menjadi pribadi yang peduli dan suka menolong.
Bagi ketiganya, cerita tersebut memiliki kedekatan dengan perjalanan mereka di dunia hiburan serta persahabatan yang tetap terjaga di tengah berbagai tantangan.
Di luar humor dan aksi, GJLS: Berapi-Api turut menyoroti tanggung jawab besar petugas pemadam kebakaran dalam melindungi masyarakat.
Profesi ini tidak hanya berkaitan dengan upaya memadamkan api, tetapi juga menuntut kesiapsiagaan, disiplin, kerja sama, dan keberanian menghadapi risiko demi keselamatan orang lain.
Melalui perjalanan tiga tokoh utamanya, film ini mengingatkan bahwa keberanian tidak selalu datang dari sosok yang paling hebat atau paling dihormati. Orang-orang yang pernah gagal dan dipandang sebelah mata pun dapat mengambil peran penting ketika keadaan menuntut tindakan nyata.
Kehadiran mobil pemadam kebakaran dan Bus Wahana Damkar GJLS dalam peluncuran film turut memperkuat penghormatan terhadap dedikasi petugas damkar sekaligus memperkenalkan perlengkapan dan aspek keselamatan kepada masyarakat.
Selain trio GJLS, film ini turut dibintangi Carissa Perusset, Aurra Kharisma, Indira Ayu Maharani atau Inayma, Ebel Cobra, Grace Emmanuela, Yono Bakrie, Nigel Siwabessy, Rio Dumatubun, dan Sadha Triyudha.
Nuansa perjuangan dalam film juga diperkuat Barasuara melalui lagu tema orisinal berjudul Api dan Mimpi. Lagu tersebut melengkapi kisah tentang harapan, perjuangan, dan semangat pantang menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan.
Perpaduan komedi, aksi penyelamatan, dan drama sosial menjadi pendekatan yang ditawarkan GJLS: Berapi-Api untuk menghadirkan pengalaman menonton yang berbeda.
Di balik tingkah konyol yang mengundang tawa, tersimpan pertaruhan besar ketika keselamatan manusia menjadi taruhan. Film ini membawa trio GJLS keluar dari zona nyaman komedi menuju cerita tentang solidaritas, keberanian, dan pilihan untuk menolong sesama ketika keadaan menjadi genting.
